Rabu, 16 November 2016

BERITA WANITA


Normalnya, orang dewasa rata-rata tidur 7-8 jam sehari. Tetapi, Heather Reed (37) bisa tidur selama 22 jam sehari. Wanita asal Kanada itu ternyata mengalami gangguan langka, yaitu sindrom Kleine-Levin atau dikenal dengan Sleeping Beauty Syndrome.
Ketika gangguannya sedang membaik, Reed biasa tidur selama 12 jam sehari. Tetapi, sering kali waktu itu juga dianggap kurang. Reed merasa hanya tidur sebentar.
Gangguan langka ini benar-benar telah mengubah hidupnya. Bayangkan, Reed terkadang hanya memiliki waktu 2 jam untuk melakukan aktivitas selain tidur, karena dalam sehari hanya 24 jam. Red kehilangan pekerjaan dan kehidupan sosialnya.
"Ini tentu berdampak pada hidup saya. Saya merasa seperti hantu," kata Reed.
Sebelum didiagnosis sindrom Kleine-Levin, Reed lebih dulu dinyatakan memiliki myalgic encephalomyelitis pada lima tahun lalu. Penyakit itu membuatnya selalu merasa kelelahan.
Ternyata, kombinasi myalgic encephalomyelitis dan sindrom Kleine-Levin memperburuk waktu tidur Reed. Itulah mengapa setelah terbangun dari tidurnya yang lama, Reed pun masih merasa kelelahan dan kembali tertidur.
Reed merasa hidupnya menjadi terlalu cepat. Namun, ia terus berusaha mengatasi gejalanya. Gangguan tidur ini dirasakan reed setelah pulih dari infeksi virus selama tiga bulan.

Gangguan Langka, Wanita Ini Tidur 22 Jam Sehari



Reed juga mengalami masalah neurologis, seperti pelupa dan nyeri otot. Akibatnya, saat sedang terjaga pun ia tak bisa banyak melalakukan sesuatu.
Dalam satu pekan, biasanya Reed hanya satu kali keluar rumah untuk pergi berbelanja atau menemui kerabat.
Sedihnya, banyak orang menganggap sepele penyakit yang dialami Reed. Sebab, mereka melihat Reed dalam keadaan baik-baik saja dan menanggap Reed memang sedang kelelahan sehingga butuh waktu tidur yang lama.
Sindrom Kleine-Levin adalah masalah neurologis yang dimulai pada masa remaja. Terkadang penyakit ini diawali dengan terkena infeksi atau penyakit.
Tanda seseorang terserang sindrom ini, yaitu tidur berlebihan hingga 20 jam sehari. Episode serangan itu bisa datang sangat cepat dan berlangsung dalam beberapa hari, bahkan beberapa minggu.
Ketika terjadi serangan, pasien biasanya akan mudah tersinggung, bersifat kekanakan, mengalami disorientasi, dan ingin makan berlebihan. Penyakit ini bisa menyebabkan pasiennya depresi.
Diperkirakan ada 1000 orang di seluruh dunia yang mengidap gangguan langka ini. Kebanyakan pasien sindrom Klein-Levin bisa pulih dari kondisinya setelah 7 tahun. Reed pun berharap bisa mengendalikan gejala penyakitnya sehingga tak perlu selalu tidur terlalu lama.

BERITA KESEHATAN


Perbanyak Serat untuk Turunkan Kadar Kolesterol


Pola makan berperan besar untuk menurunkanKolesterol. Makanan utama yang terbukti efektif menurunkan kadarKolesterol adalah asupan serat.

Menurut dr.Stella Bella Sp.GK, ada dua jenis serat, yaitu serat larut dan tidak larut. "Serat yang tidak larut air bermanfaat untuk melancarkan pencernaan dan buang air besar, sedangkan serat larut air bisa membantu turunkan Kolesterol," katanya dalam acara diskusi Forum Ngobras dan Veggie Fruit Premium di Jakarta (16/11/2016).

Serat larut tersebut, menurut Stella, akan menarik Kolesterol dari makanan yang dicerna di usus. Serat jenis ini juga memapu mengurangi jumlah empedu yang diserap di usus halus dan akan dikeluarkan dengan feses. 

"Karena yang diserap sedikit, liver kita akan membuat empedu lagi. Tubuh kita menggunakan Kolesterol atau lemak untuk membuat empedu. Makin banyak empedu dibuat liver, makin banyak Kolesterolditarik dari darah," katanya.

Makanan yang mengandung serat antara lain sayuran dan buah, oat, atau kacang-kacangan. Rutin mengonsumsi serat bisa membantu mencegah kenaikan Kolesterol, selain juga menunda rasa lapar.

Asupan serat pangan di Indonesia direkomendasikan 10-13 gram/hari dalam 1000 kkal (anak) dan 25-30 gram dalam 2.100 kalori pada orang dewasa.

Untuk mereka yang sudah mengalami Kolesterol tinggi, Stella menyarankan untuk berkonsultasi ke dokter. "Apakah bisa dengan dietsaja atau perlu obat-obatan untuk menurunkan Kolesterol," ujarnya.

BERITA KESEHATAN METOBOLISME


Gangguan Penyakit yang Bikin Metabolisme Lambat



Metabolisme merupakan proses tubuh dalam mengubah kalori menjadi energi. Jika metabolisme lambat, maka bisa terjadi kenaikan berat badan. Lantas, mengapa metabolisme melambat?

Ada banyak penyebab mengapa kerja metabolisme tidak normal lagi, salah satunya gangguan hormonal. Nah, ketahui gangguan medis lain yang berkontribusi pada kondisi ini.

- Kebanyakan kortisol
Bagi sebagian orang, kelebihan hormon kortisol atau hormon stres, dapat menyebabkan metabolisme lambat. "Kelebihan kortisol dapat memicu kenaikan berat badan secara signfikan," kata Michael West, dokter spesialis endokrinologi dari Washington.

Dalam jumlah normal, kortisol bersama hormon lainnya sebenarnya membantu membakar lemak. Namun, jika jumlahnya berlebihan, misalnya karena stres kronik, tubuh mengira kita membutuhkan energi ekstra sehingga mempertahakan kalori.

- Kadar insulin tinggi
Ini seperti mana yang lebih dulu antara ayam atau telur. Kegemukan dapat menyebabkan resistensi insulin dan diabetes tipe dua, sementara penyakit diabetes terkait dengan kesulitan menurunkan berat badan. 

Hormon insulin diperlukan tubuh untuk memakai glukosa sebagai energi. Jika tubuh kita "resisten pada insulin" maka sel-sel tubuh tak bisa menyerap glukosa sehingga kadar gula darah tinggi. Kondisi ini membuat tubuh mengira kita kelebihan stok energi sehingga kerja metabolisme pun melambat.

- Gangguan tiroid
Kelenjar tiroid yang terletak di bagian bawah leher, bekerja mengatur hormon tiroid yang berpengaruh besar pada metabolisme. Jadi, jika hormon ini kurang (disebut dengan hipotiroid) maka metabolisme pun melambat. Untuk mengetahui kadar hormon ini diperlukan pemeriksaan darah.

- Estrogen rendah
Perempuan yang memasuki usia menopasue mungkin akan bertanya-tanya mengapa metabolismenya melambat. Salah satu pemicunya adalah berkurangnya hormon estrogen, yang juga penanda menopause. Kurangnya estrogen juga meningkatkan massa lemak dan menurunkan massa otot.

- Testosteron berkurang
Seiring bertambahnya usia, pria juga akan mengalami penurunan testosteron. Tanda-tandanya antara lain massa otot berkurang dan massa lemak bertambah. 

- Penuaan
Kita sering mengaitkan perlambatan metabolisme dengan bertambahnya usia, dan ini memang ada benarnya. Selain karena perubahan hormonal, tubuh kita juga kehilangan jaringan otot seiring bertambahnya usia. Karena otot membakar lebih banyak kalori, maka lebih sedikit otot berarti kita pun akan lebih banyak menyimpan lemak.

BERITA ANAK


Latih Anak Menyelesaikan Masalahnya Sendiri


 Orangtua adalah perisai anak. Tapi orangtua juga harus memberi arahan dan kepercayaan pada anak untuk menyelesaikan masalahnya sendiri.
Orangtua Weni marah bukan kepalang ketika tahu putrinya mendapat perlakuan tak pantas dari temannya di sekolah. Segala usaha ditempuh, mulai dari ‘menyerang’ orangtua murid lain di grup Whatsapp sampai melapor ke pihak sekolah dengan tuduhan wali kelas gagal mengawasi perilaku murid-muridnya.
Setelah diusut, ternyata Weni ‘hanya’ terkena dorongan ketika bermain bersama temannya. Dorongan tersebut tidak berakibat fatal pada kondisi Weni yang baru menginjak usia 6 tahun.
Di sisi lain, setelah berunding dengan pihak yang dituduh, terungkap bahwa orangtua Weni ingin anaknya bersikap mandiri. Mereka menilai Weni terlalu bergantung pada orangtua dan kurang mandiri dibanding teman-teman sekelasnya.
Namun, akibat ‘serangan’ oran tua Weni kepada orangtua murid lain, kini Weni mulai dijauhi teman-teman sekelas lantaran mereka tak mau berurusan dengan orangtua Weni yang terlanjur terkenal galak.
Psikolog Vera Itabiliana Hadiwidjojo, S.Psi., Psi menyebut jika orangtua ingin anaknya mandiri, hendaknya diberi arahan dan kepercayaan untuk menyelesaikan masalahnya sendiri.
“Orangtua bisa saja tidak intervensi langsung, tapi menjadi tempat diskusi bagi anak untuk tahu bagaimana menyikapi masalahnya. Jadi, orangtua senantiasa ada di belakang anak untuk mengarahkan dan memberi dukungan agar anak belajar mengatasi masalahnya sendiri,” papar Vera.
Urusan kemandirian ini tak bisa dipandang remeh. Sebab berkaitan dengan masa depan si anak dan orangtua anak itu sendiri.
“Banyak kasus yang saya tangani berkaitan dengan hal ini. Sikap orangtua yang over protektif, memanjakan, atau melayani anak membuat anak tumbuh sebagai individu yang terbiasa terpenuhi kebutuhannya tanpa melakukan usaha apa pun,” kata Vera.
Akibat dari perilaku ini, anak selalu menganggap segala masalah akan terselesaikan dengan sendirinya. Ketika dihadapkan dengan masalah atau kesulitan yang menuntut kemandirian, anak tersebut akan mudah frustasi atau lari menghindari masalah tersebut.
Menurut Vera, orangtua boleh dan sah saja langsung mengambil alih masalah dari anak. Dengan catatan, masalahnya sudah serius seperti mengancam keselamatan si anak.
Sikap orangtua yang langsung mengambil alih masalah anaknya, lanjut Vera, disebabkan oleh banyak hal. Misalnya, ketidakmampuan untuk mengendalikan emosi sendiri, kurang percaya dengan kemampuan anak, kurang sabar mendampingi anak menyelesaikan masalahnya sendiri, dan menjadikan masalah anak sebagai masalah pribadinya sehingga orangtua kerap salah fokus.
Akibat perilaku demikian, orangtua dan anak malah bisa mendapat masalah baru. Dalam kasus di atas, Weni dijauhi teman-temannya. Belum lagi jika ada orangtua murid lain yang tidak terima dengan sikap orangtua Weni.
“Orangtua murid yang lain berhak membela diri dan melindungi anaknya yang ‘diserang’ oleh orangtua Weni lho,” ucap Vera.
Vera menyarankan, jika ingin membela diri, sebaiknya pakai cara yang lebih elegan dan tidak menyamakan diri dengan orangtua Weni. Ada baiknya minta pihak ketiga yang netral untuk jadi penengah.
Sebetulnya, sambung Vera, ada cara untuk menghindari perilaku seperti orangtua Weni. Salah satunya dengan membiasakan memberi kepercayaan pada anak.
“Cara lain, usahakan selalu memandang persoalan dengan tenang dan berimbang. Dengarkan cerita anak mengenai apa yang terjadi di sekolah secara utuh dan jelas. Jangan langsung memotong dan bereaksi berlebihan,” pungkas Vera.

BERITA BATUK KRONIS



Batuk Tak Kunjung Sembuh, Waspadai Penyakit Paru Kronik


Jangan anggap sepele jika mengalami batuk yang tak kunjung sembuh. Batuk-batuk tersebut bisa jadi gejala penyakit paru obstruktif kronik (PPOK) yang menyebabkan aliran udara dari paru-paru terhambat.
"Gejalanya PPOK batuk kronik, bisa tidak sembuh-sembuh lebih dari tiga minggu," ujar dr. Jamal Zaini, SpP (K) saat ditemui di RSUP Persahabatan, Jakarta, Rabu (16/11/2016).
Batuk tersebut biasanya disertai dahak atau lendir. Tetapi ada juga yang mengalami batuk kering. Gejala lainnya yang sering muncul, yaitu sesak kronik. Pasien lebih mudah sesak napas dan berlangsung dalam waktu lama. Misalnya, baru berjalan 100 meter saja sudah terasa sesak, waspadai ada masalah pada paru.
Sayangnya, gejala sering kali muncul setelah sudah terjadi kerusakan paru. Gejala tersebut jangan diabaikan. Apalagi jika memiliki faktor risiko utama terserang PPOK, yaitu merokok. "Pasien PPOK. 90 persen adalah perokok," kata Jamal.
Merokok menyebabkan zat karsinogenik dalam kandungan tar masuk ke saluran napas. Secara perlahan, tar dapat merusak jaringan paru dan menyebabkan PPOK. Jamal mengatakan, kondisi paru pada pasien PPOK tidak bisa dikembalikan seperti semula jika paru-paru sudah rusak dan terjadi penurunan fungsi paru.
Selain pengobatan medis, yang bisa dilakukan pasien adalah mengurangi pajanannya, misalnya dengan berhenti merokok dan hindari sering terpapar polusi udara. Jika tetap nekat merokok, penurunan fungsi paru akan lebih cepat terjadi dibanding yang tidak merokok. Bahkan, pasien juga berisiko terkena kanker paru.
Bertepatan dengan Hari Penyakit Paru Obstruktif Kronik Sedunia yang tahun ini jatuh pada tanggal 16 November, masyarakat diharapkan dapat lebih mengenal penyakit ini sehingga lebih peduli untuk menjaga kesehatan paru.

BERITA KESEHATAN


Teh Hijau Bantu Jaga Kesehatan Selama Pergantian Musim



Cuaca tak menentu, udara yang relatif dingin, rentan membuat Anda terserang penyakit pergantian musim seperti perut kembung hingga flu.
Badan kesehatan nasional (NHS) di Inggris baru saja mengampanyekan warganya untuk menyediakan ketel air hangat dan menyeruput teh hangat selama memasuki musim dingin.
Cuaca yang didominasi oleh angin dingin, awan mendung, dan hujan, membuat para ahli kesehatan Inggris mengeluarkan imbauan kepada masyarakat untuk mengonsumsi makanan dan minuman panas agar tubuh tetap hangat.
"Makanan dan minuman adalah sumber penting dari energi, yang dapat menjaga tubuh Anda tetap hangat," kata juru bicara kampanye tersebut.
"Cobalah untuk memastikan bahwa Anda mengonsumsi makanan dan minuman panas secara teratur sepanjang hari ketika suhu menjadi dingin."
Kampanye ini juga menyarankan masyarakat untuk melakukan vaksinasi flu sesegera mungkin. Termasuk mendesak masyarakat untuk mengunjungi dokter sejak ada gejala awal batuk atau pilek. Sebab, di pergantian musim, penyembuhan penyakit tersebut cenderung menjadi lebih lama.
Profesor Keith Willett, direktur medis NHS mengatakan, mengambil langkah-langkah pencegahan sangat penting untuk dapat tetap sehat. Sehingga, saat musim dingin atau penghujan datang, tidak ada salahnya untuk menyediakan ketel air hangat dan menyeruput teh hangat.
Untuk mendapatkan manfaat kesehatan yang lebih baik, Anda bisa mengonsumsi teh hijau hangat tanpa gula.
Menurut Penelitian yang dilakukan The Brigham and Women’s Hospital, kandungan tanin dalam teh hijau mampu meningkatkan kapasitas sel Gamma Delta T untuk melawan penyakit dan membantu tubuh melawan infeksi, sehingga daya tahan tubuh menjadi lebih baik.


Fakta Seputar Minyak Zaitun yang Penting Diketahui


Telah lama minyak zaitum dihormati karena manfaat kesehatan dan kecantikannya. Tak heran, selama berabad-abad, minyak zaitun menjadi komoditas predagangan yang sangat berharga.
Manfaat minyak zaitun akan semakin nyata, jika Anda tahu bagaimana cara memilih jenisnya yang terbaik.
Terus terang saja, minyak zaitun yang beredar di pasaran, tidak semuanya berkualitas baik walau dilabeli sebagai produk unggulan atau premium. Ada tiga trik yang dilakukan oleh produsen yang tidak bertanggungjawab untuk mengelabui konsumen, yakni;
1) Mencampur minyak zaitun berkualitas buruk dengan yang berkualitas lebih baik.
2) Mengemas stok lama bahkan yang sudah berbau tengik dan menjualnya seolah-olah produk segar.
3) Mengemas produk seperti minyak kedelai atau minyak bunga matahari dan mendinginkanya lalu menjualnya seolah itu minyak zaitun.
Jadi, bagaimana And tahu jika produk yang Anda beli sungguh minyak zaitun berkualitas baik? Ahli investigasi produk makanan, Larry Olmsted, menyarankan:
- Lihat pada kemasan apakah ada logo atau pemberitahuan bahwa produk itu telah melalui uji kelayakan dari badan penelaah yang terpercaya. Misal, mencantumkan persetujuan dari Olive Oil Council California, serta perangko pengesahan dari Virgin Alliance Extra (EVA) dan UNAPROL, asosiasi petani zaitun yang sangat dihormati di Italia.
- Jika memungkinkan, pilih produk dari Chili atau Australia, yang menurut Komisi Perdagangan Internasional AS, produk dari dua negara itu memiliki kualitas dan kemurnian yang tertinggi dibanding produk sejenis dari negara-negara lain.
- Beli minyak zaitun yang dikemas dalam botol berwarna gelap, karena cahaya dapat menghancurkan kualitas yang minyak zaitun.
Produsen minyak zaitun yang terpercaya tidak akan menempatkan produk mereka dalam botol bening.